Belajar dari Ayahanda drs H. Lalu Mudjitahid dan Bapak Bupati Lombok Timur Ali BD

( Sebuah Catatan Tentang Kepemimpinan )

“Kepemimpinan adalah pengaruh,” kata John C. Maxwell.

Lama saya memikirkan makna kalimat itu, hingga pada Senin, 11 September lalu saya menghadiri gelaran Festival Tenun Pringgasela.

Bagi saya, itu hari bersejarah. Bukan sekadar karena festivalnya, melainkan juga karena saya bisa duduk bersama tokoh-tokoh hebat dan menyaksikan betapa gaya kepemimpinan membawa pengaruh luar biasa bagi lingkungannya.

Ada dua tokoh utama di hari itu. Bupati Lombok Timur Ali Bin Dachlan dan Mantan Bupati Lombok Barat, Haji Lalu Mudjitahid. Keduanya tokoh hebat.

Haji Lalu Mudjitahid. Nyaris seluruh hidupnya didedikasikan untuk memajukan daerahnya. Sebagai pemimpin, pengalamannya sangat komplit. Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah menjadi Camat Tanjung, yang kini menjadi ibukota Kabupaten Lombok Utara.

Jangan bayangkan, Tanjung sudah semaju sekarang. Di masa Pak Mudji, Tanjung adalah daerah tertinggal dengan sarana prasarana yang sangat terbatas. Tak butuh waktu lama baginya untuk membalik keadaan menjadi baik.

Pada usia 30 tahun, beliau ditunjuk menjadi Wali Kota Administratif Mataram. Prestasinya melampaui ekspektasi. Sepuluh tahun menjabat, Kota Mataram disulapnya menjadi kota yang cantik menawan dengan sederet penghargaan. Pak Mudji sukses mengantar ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat ini menjadi daerah otonom.

Selanjutnya ia dipercaya menjadi Bupati Lombok Barat. Tantangannya berat. Ia menata kabupaten Lombok Barat setelah berpisah dengan Kota Mataram, menyiapkan ibukota dan kawasan baru untuk menjalankan roda pemerintahan kabupaten.

Saat itu adalah era Orde Baru. Pak Mudji adalah satu dari sedikit warga sipil yang dipercaya menduduki jabatan strategis. Selebihnya kebanyakan tentara.

Istimewa? Pasti. Tapi lagi-lagi jangan bayangkan itu sesuatu yang mudah. Anggaran daerah terbatas, segala sesuatu diurus oleh pemerintah pusat, sementara pekerjaan rumah bertumpuk. Namun tak ada kamus menyerah bagi seorang Mudjitahid. Di tengah berbagai keterbatasan itu ia membuat terobosan dan beragam inovasi. Jejaknya masih terlihat hingga kini.

Selepas jabatan Bupati, Pak Mudji nyaris tak pernah menganggur. Namanya tetap hadir dalam perbincangan warga, baik di warung kopi hingga ruangan para pengambil kebijakan. Selalu menjadi nominasi dan mendapat kepercayaan untuk memegang amanah mengurus hajat hidup orang banyak dan kepentingan umat. Sebut saja, PT Gerbang Emas, Dewan Masjid Indonesia, Majelis Adat Sasak hingga Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme NTB.

Bagi banyak orang di NTB, ia adalah bintang yang terus bersinar, benderang, bahkan hingga usianya yang makin senja. Mudjitahid adalah guru panutan yang begitu mudah dijangkau. Bahkan oleh generasi jauh di bawahnya. Tak jumawa, tak bersemayam di menara gading. Tanpa perlu pencitraan.

Ali Bin Dachlan. Telah dua kali menjabat Bupati Lombok Timur, dengan jeda satu periode. Pada periode kedua, ia mengalahkan petahana yang seorang purnawirawan Kolonel TNI AD.

Ketika menang, media cetak lokal menggambarkan sosoknya sebagai pria berjas dengan sapu di tangan sebagai apresiasi atas kemenangan sosok yang dianggap keras dan bersih itu. Di tengah masa jabatannya, Ali sempat didemo oleh ribuan guru karena Perda Zakat yang kontroversial dan ia tetap bersiteguh dengan kebijakannya.

Ketika bertarung sebagai petahana, mantan Ketua DPW PKB ini memborong nyaris semua partai. Namun ia gagal memenangkan pertarungan melawan kakak kandung Gubernur NTB Zainul Majdi yang diusung sejumlah partai kecil dan non parlemen.

Periode berikutnya pada tahun 2013, Ali kembali menantang. Kali ini menggunakan jalur perseorangan. Pemilik sejumlah BPR ini akhirnya berhasil merebut kembali kursinya.

Ali BD adalah sosok unik. Ia pebisnis yang juga aktif di sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Meski masih hidup, namanya telah lama diabadikan sebagai nama sebuah jembatan di kawasan Lombok Tengah bagian selatan, daerah yang tak berada di bawah pemerintahannya.

Beberapa waktu lalu, Mendagri membatalkan Perda Zakat yang sekian lama dipertahankannya. Dan Ali BD melawan. Banyak yang bilang, kekerasan hati itu diwarisi dari salahsatu leluhurnya, seorang kyai terkemuka asal Lombok, santri dan menantu Syaikhona Cholil Bangkalan yang kemudian mengajar di Mekkah.

Sang leluhur dikenal dengan nama Tuan Guru Haji Umar Kelayu. Salah seorang murid beliau adalah Zainuddin Abdul Majid, yang kelak mendirikan Nahdlatul Wathan, organisasi Islam terbesar di NTB. Tuan Guru Zainuddin adalah kakek dari Gubernur saat ini, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang.

Kembali pada dua sosok bintang ini, Pak Mudji dan Ali BD. Saya melihat gaya kepemimpinan yang kontras dari keduanya. Pak Mudji yang merakyat dan Ali BD yang jumawa.

Bagi saya, Festival Seni Pringgasela itu menghadirkan kejutan dengan menjadi ajang  penampilan dua karakter. Kejutan pertama saya dapat ketika Pak Mudji diminta memberi sambutan. Beliau meminta saya ikut ke mimbar mendampinginya. Tak cukup itu, alih-alih segera memberi wejangan, beliau malah sibuk memperkenalkan saya dan melontarkan komentar yang sukses bikin saya tersipu-sipu.

Saat itu saya seketika teringat petuahnya. Menurutnya, pemimpin tidak akan berhasil, jika hanya memberi perintah.  Tapi harus di depan dan menjadi contoh. Jika ingin berhasil, pemimpin harus berada di tengah masyarakat, membuat terobosan. Menjauh dari masyarakat hanya akan mendatangkan kesulitan.

Kejutan kedua datang dari Pak Bupati Ali BD. Beliau mengecam Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur yang notabene bawahannya, telah bertindak bodoh dengan tidak berkontribusi pada ajang festival itu. Kritik yang sama dilontarkannya pada Dinas Pariwisata NTB. Kemudian, beliau mengumumkan perhatiannya selaku pribadi terhadap perhelatan itu dalam bentuk donasi senilai 25 juta rupiah.

Seketika saya teringat petuah Robert E. Lee mengenai kepemimpinan. Jangan percayai seseorang yang tak bisa mengendalikan dirinya untuk mengendalikan orang lain. Ada benarnya. Mustahil seorang pemimpin akan berhasil tanpa dukungan para bawahan dan pengikut. Kepemimpinan tanpa kepengikutan (followership) yang baik, hanya menghasilkan megalomania. Menganggap dirinya sangat besar, melampaui keadaan sesungguhnya. Merasa jumawa.

Saat itu juga saya mewanti-wanti diri saya, agar menjauh dari hal-hal yang demikian. Pemimpin tak pernah dilahirkan. Ia diciptakan. Dan saya bertekad untuk terus belajar. Dari belakang mengikuti jejak sang legenda hidup, Haji Lalu Mudjitahid, yang gagasannya selalu menghidupkan dan tak lekang oleh zaman.

Taufan Rahmadi

Please follow and like us:
0

One Comment Add yours

  1. It’s a great opportunity to have some one like you Sir.. The one who stand at the front line, Lombok’s Tourism Development.
    May Allah The All Mighty always be with us.
    http://www.lombokfuntravel.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *