Hidup Bukan untuk Mapan (Sebuah Catatan Akhir Tahun)

” … apakah itu kesuksesan? adakah Uang menjadi ukurannya ?, apakah itu penghargaan ? adakah Uang yang menjadi alasan untuk membelinya, apakah itu persahabatan ? adakah Uang yang menjadi alasan untuk mengekalkannya ? … “

sebentar lagi 2015, seperti di setiap menjelang tahun baru ada banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran ini, yang  kemudian membawa segala ingatan kembali muncul tentang apa  dan bagaimana diri ini di 365 hari yang telah berlalu, sudah terwujudkah apa yang kita cita-cita kan ?,  sudah mampukah kita membahagiakan orang-orang yang kita sayangi ? sudah adakah karya yang kita persembahkan untuk masyarakat sekeliling kita terlebih negeri ini ? dan Dosa, seberapa dekat kita pada-Nya untuk memohon ampun atas segala kekeliruan yang mungkin telah kita lakukan ?

Tahun baru, adalah tahun penuh tanda tanya dan sekaligus tahun dengan 1001 jawaban , manusia dihadapkan pada sebuah kenyataan hidup, ada yang membahagiakan, ada yang menyedihkan , seperti gelombang, naik turun adalah bagian dari hukum alam yang harus dinikmati, biarkan hidup ini mengalir, yakin saja dibalik kesulitan ada kemudahan, kita tekun dan terus berjuang, dan kalau kita berada dalam kebahagiaan, janganlah jumawa, karena dibalik itu semua ada Tuhan yang berperan.

Seorang pengusaha sukses pernah ditanya oleh seorang ibu , ” saya sudah berusia hampir 40 tahun, kenapa kok saya belum mapan ? usaha yang saya buat gagal terus ? apa sih mapan itu ? ”

sang pengusaha sukses itupun menjawab , ” Kemapanan itu menurut saya tidak ada bu, justru saya menghindari merasakan itu, karena yang konstan itu adalah perubahan, hidup itu terus bergerak, mapan dan berada di zona nyaman akan membuat kita menjadi pribadi yang rapuh akan perubahan yang mungkin saja tidak menyenangkan, saya lebih baik berfikir tentang terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap rencana-rencana saya untuk masa depan, selain bermanfaat buat meningkatkan kualitas diri dan tentunya juga untuk kebermanfaatan bagi masyarakat luas , dan ibu Jangan pernah berfikir kalau ” Life begin at 40 ” adalah patokan dimulainya sebuah kemapanan, karena nanti kita terjebak dengan pemahaman, kalau kita tidak “mapan” di usia 40 berarti gagal, ini tidak benar,  yang benar adalah bagaimana kita mampu berbuat selama masa hidup kita dengan berimbang, berimbang antara amalan dunia dan akhiratnya, dan itu tidak mesti dimulai dari usia 40, percayalah rejeki Allah SWT itu tidak mungkin tertukar, kerja saja sebaik-baiknya, lalu Ikhlas kan apa yang bakal terjadi diatas Ikhtiar kita yang maksimal dijalan Allah SWT “.

Hal ini mungkin mudah untuk dibicarakan, tapi sulit untuk dilakukan, tapi itulah apa adanya, itulah kenyataan kehidupan yang kita jalani diatas muka bumi ini, orang gagal itu banyak, orang sukses itu juga banyak, yang jarang adalah orang yang gagal lalu bangkit kembali, tidak putus asa dan yakin bahwa dibalik kegagalan yang dia alami akan ada masa keberhasilan yang akan diberikan Tuhan disaat waktunya tepat dan tentunya lengkap dengan keberkahannya, mengapa lengkap dengan keberkahannya ?, karena apa yang dilakukan bukan untuk mengejar materinya melainkan kebermanfaatannya , seperti juga Thomas Alfa Edison yang menemukan Bola Lampu, dia bertujuan melakukan eksperimen bukan untuk menjual bola lampu tapi bagaimana membuat sesuatu yang bermanfaat buat manusia agar lepas dari kegelapan, begitupula sang legenda Steve Jobs, yang menciptakan Apple bukan untuk menjual komputer, tapi bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa memudahkan kerja manusia di masa depan.

Jadi, Hidup itu tidak selamanya bicara tentang materi atau uang, melainkan bicara tentang perjuangan membangkitkan harapan untuk banyak orang, inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan.

Selamat Tahun baru 2015, Mari bersama menjadi bermanfaat …

Taufan Rahmadi | Semarang | Dec 25th 2015

 

Please follow and like us:
0

One Comment Add yours

  1. Dino Marahu says:

    Super sekali dan sangat Inspiratif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *