Hikmah Mendengar Sambutan Bupati Lombok Timur, Bapak Ali BD

“You do not lead by hitting people over your head-it’s an attack, not leadership.” (Dwight D. Eisenhower)

Dwight D. Eisenhower adalah salahsatu pemimpin dengan tantangan terberat dan terpanjang dalam sejarah Amerika. Selama dua dekade, kehidupan ribuan bahkan jutaan orang dan nasib bangsa-bangsa besar bergantung pada keputusannya.

Keberhasilan pemimpin tak ditentukan sendiri, namun juga oleh orang-orang yang dipimpinnya. Mustahil seorang pemimpin akan berhasil tanpa dukungan para bawahan dan pengikut. kepemimpinan tanpa kepengikutan (followership) yang baik, hanya menghasilkan megalomania. Menganggap dirinya sangat besar, melampaui keadaan sesungguhnya. Merasa jumawa dan suka bertingkah otoriter.

Pemimpin yang seperti ini cenderung melemahkan pengikut dan bawahannya. Memposisikan mereka sebagai pelaksana bukan pemikir dan cenderung bertindak untuk kebesaran dirinya sendiri.

Tanpa kepengikutan yang baik, pemimpin paling baik sekalipun, berpotensi menjadi narsistik. Ia senang dipuja dan memuja dirinya sendiri. Sumber daya dan waktunya banyak dicurahkan untuk menyita perhatian publik dari panggung ke panggung untuk mendapat puja-puji yang miskin substansi.

Sungguh, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan dan kesuksesan Eisenhower sebagai pemimpin. Kemampuannya membangun dan mempertahankan moral orang-orang yang berada di bawah pimpinannya sangat diakui.

Dia menunjukkan betapa agar dapat meraih dukungan tulus, seorang pemimpin harus mampu menumbuhkembangkan orang-orang yang telah mengabdikan bakat dan pengetahuan mereka demi kemajuan.

Naif bila dikatakan bahwa hanya dukungan logistik dan finansial yang akan mendatangkan loyalitas dan kebahagiaan para pengikutnya, tanpa adanya hubungan dan komunikasi interpersonal yang berkualitas. Eisenhower bekerja keras keras setiap hari, mengajari orang-orang untuk tidak memotong jalan, dan mendorong mereka agar selalu melakukan yang terbaik. Pada saat yang sama, dia mendengarkan mereka, mengilhami mereka dengan teladannya sendiri, dan merawat mereka seperti seorang ayah.

Penting bagi seorang pemimpin untuk membuat para bawahannya merasa sebagai bagian dari tim yang berkontribusi signifikan dan mendapat apresiasi atas hasil dari usaha dan loyalitas mereka.

Seorang pemimpin harus menyadari peran pentingnya dalam kehidupan para pengikut atau bawahannya. Jika sampai mereka merasa tidak berdaya, dianggap tidak penting, dan dianggap bodoh, ini berbahaya. Mereka bakal menjadi tidak antusias, lamban, dan miskin majinasi.

Sepintar apapun seorang pemimpin, jika perilakunya seperti itu, bisa jadi ia akan mengakui bahwa dirinya miskin empati dan tak mampu mengelola emosi diri maupun khalayak, ketika kepemimpinannya tak lagi efektif dan dipercaya.

Pada pemimpin yang menyia-nyiakan loyalitas dan kontribusi para pengikutnya itu, bolehlah kita menyebutnya bebal dan bodoh. Seperti kata Kang Komar, tokoh dalam Sinetron Preman Pensiun, “di bawah pemimpin yang baik, anak buah bodoh pun ada gunanya. Tapi di bawah pemimpin bodoh, pasukan terbaik pun kocar-kacir.”

TR – 11 Sept 2017

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *